Bandar q Bandar Bola
internest-bebas
Posted by : Louis Setiawan Rabu, 06 Juli 2016


Cerita Dewasa Puber adalah cerita dewasa yang berdasarkan kisah nyata para pembuat cerita. Cerita dewasa puber menyediakan CERITA SEX ABG - CERITA SEX PELAJAR - CERITA SEX JILBAB - CERITA SEX TANTE - CERITA SEX DEWASA. Untuk saran silahkan komentar di blog kami Terima Kasih.

Cerita Ini terjadi ketika aku berumur 17 tahun, kelas 2 SMU. Sudah lama sekali, tapi kesannya yang mendalam membuat aku tidak akan pMirah bisa lupa. Aku bahkan bisa mengingatnya dengan detail.

Aku memanggilnya Tante Mira . Orangnya baik, supel dan enak diajak ngobrol. Wajahnya sih biasa saja, tapi menurutku manis. Yang jelas, kulitnya putih mulus dan body-nya mantap. Waktu itu usianya sekitar 30 tahun, punya 1 anak laki-laki yang masih kecil. Keluarga Tante Mira  tinggal di Surabaya. Dia sendiri tinggal di Jakarta selama 1 tahun untuk mengikuti suatu pendidikan. Selama di Jakarta, dia tinggal di rumah kami. Kebetulan rumah kami cukup besar, dan ada satu kamar kosong yang memang disediakan untuk tamu.

Sebenarnya Tante Mira  itu bukan type perempuan yang nakal. Setahuku dia termasuk perempuan baik-baik, dan rumah tangganya pun kelihatan rukun-rukun saja. Tapi yang jelas dia kesepian selama tinggal di Jakarta. Dia butuh pelampiasan sex. Kebetulan di sini boleh dibilang cuma aku cowok yang dekat dengannya. Jadi, kukira wajar kalau akhirnya affair itu terjadi. Lagipula, kukira Tante Mira  memang termasuk perempuan yang gairah sex -nya besar.Sejak peristiwa yang pertama, kami seperti ketagihan. Kami bercinta kapan saja, setiap ada kesempatan. Di kamar, di dapur, di kamar mandi, di hotel, di mana saja.

Demi menyalurkan nafsuku yang seakan tak pMirah surut pada Tante Mira , aku bahkan jadi sering bolos ataupun kabur dari sekolah, dan tanteku yang manis dan sexy itu selalu siap meladeniku. Akibatnya, tahun itu aku tidak naik kelas. Semua orang kaget, hanya Tante Mira  yang maklum. Dia bilang, walaupun aku tidak naik kelas, tapi aku “lulus” sebagai laki-laki. Harus kuakui, Tante Mira  adalah guruku yang terbaik dalam hal yang satu itu.Untungnya affair itu tidak berlanjut sampai ketahuan orang. Begitu Tante Mira  kembali ke Surabaya, boleh dibilang hubungan kami berakhir, walaupun di awal-awal sesekali kami masih melakukannya (kalau Tante Mira  datang ke Jakarta).

Aku lupa, Tante Mira  mengikuti pendidikan apa di Jakarta. Dia kursus sore hari dan pulangnya sudah agak malam, sekitar jam 8. Oleh karena itu, aku mendapat tugas menjemput naik motor. Awalnya sebel juga jadi “tukang ojek” begitu. Untung cuma 2 kali seminggu. Tapi, lama-lama aku malah senang. Kami cepat sekali menjadi akrab. Tante Mira  tidak canggung-canggung lagi memeluk pinggangku bila ia menumpang naik motor. Sesekali aku dapat merasakan tonjolan buah dadanya yang menekan empuk punggungku. Itu makanya aku jadi senang. Waktu itu terus terang aku belum punya pacar, jadi bersentuhan dengan perempuan adalah pengalaman yang sangat menyenangkan bagiku.

Hari itu aku berulang tahun yang ke 17. Pagi-pagi sebelum berangkat sekolah, orang tua dan adikku memberi selamat. Cuma Tante Mira  yang tidak. Aku jadi sebel. Apakah aku betul-betul cuma dianggap sebagai “tukang ojek” selama ini? Tapi ternyata dia memilih cara lain. Ketika aku sedang membereskan tas sekolahku di dalam kamar, Tante Mira  masuk. Kukira dia mau memberi ucapan selamat, tapi ternyata tidak juga. Dia bilang, seharusnya sweet seventeen dirayakan secara khusus.cerita seks

“Nggak ada uang,” jawabku asal-asalan.

Tante Mira  mengusap pipiku.

“Nanti sore kita rayain berdua,” katanya, suaranya pelan sekali.

“Tante mau kasih kado spesial buat kamu.”Aku jadi deg-degan.

Di sekolah, pikiranku ngelantur tidak karuan, ulanganku jadi jeblok banget. Aku penasaran, apa betul Tante Mira  mau memberi kado spesial. Entah kenapa, aku mulai membayangkan yang bukan-bukan.Karena tidak sabar, ketika jam istirahat aku ke telepon umum di seberang jalan. (Waktu itu belum ada HP). Di rumah cuma ada Tante Mira  dan si Mbok. Aku hampir-hampir tidak bisa ngomong waktu denger suara Tante Mira  yang merdu. Dengan lugu, akhirnya aku berterus terang bahwa aku penasaran.

“Selama ini kamu baik sekali sama Tante. Jadi, kamu boleh minta apa pun yang kamu mau.” Kata Tante Mira.

“Kalau Tante sendiri mau kasih apa?” tanyaku.

“Ya nanti dong!”

“Nggak sabaran nih!”

“Pulang aja sekarang kalau nggak sabar. Bisa kabur, kan?”

“Tapi nanti aku ada ulangan!”

“Ya udah, terserah kamu!”Aku jadi tambah penasaran.

Obrolan di telepon membuat pikiranku bertambah jorok. Entah bagaimana, feeling-ku mengatakan bahwa Tante Mira  “naksir” aku. Maka, tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung pulang saat itu juga. Kukebut motorku.Tante Mira  tersenyum ketika membukakan pintu.

“Si Mbok baruuuuu aja ke pasar!” katanya tanpa kutanya, seperti memberi isyarat bahwa situasi rumah benar-benar aman untuk kami.

Aku jadi tambah deg-degan. Pikiran jorokku bertambah. Lebih-lebih saat itu Tante Mira  mengenakan daster yang potongannya rada sexy.

“Kadonya mana?” tanyaku tidak sabar.

“Nanti dulu dong!” jawab Tante Mira .

Lalu aku disuruh menunggu di ruang duduk keluarga, sementara dia masuk ke kamar. Aku duduk di sofa sambil membuka sepatu. Tidak lama, Tante Mira  keluar kamar, tapi aku tidak melihat dia membawa kado. Sambil memandangi dia berjalan ke arahku, aku berpikir,

“Ngapain dia tadi masuk kamar?” Aku menemukan jawabannya beberapa saat kemudian, ketika kelihatan olehku kedua puting susunya membayang di balik daster.

Rupanya di kamar tadi dia cuma membuka BH. Lalu, mana kadonya?

“Merem dong!” kata Tante Mira  sambil duduk di sebelahku.

Aku menurut, kupejamkan mataku. Jantungku semakin bergemuruh. Kurasakan kelelakianku mulai bangkit, anuku mulai mengeras. Lebih-lebih ketika kurasakan nafas Tante Mira  dekat sekali dengan mukaku. gairahhsex.com  Aku ingin membuka mata, tetapi takut. Maka aku terus memejamkan mata rapat-rapat, sampai kurasakan Tante Mira  mengecup pipiku. Lembut sekali. Kiri dan kanan.cerita mesum

“Itu kadonya?” tanyaku memberanikan diri beberapa saat kemudian. Tante Mira  tersenyum.

“Itu kado spesial dari Tante,” katanya lembut.

“Tapi kalau kamu mau yang lain, kamu boleh minta. Apapun yang kamu mau….”

“Aa…aa…aku… tidak berani…” jawabku terbata-bata.

“Padahal kamu kepingin sesuatu?” dia mendesak sambil merapatkan body-nya.

Aku semakin deg-degan. Tonjolan toketnya yang montok menekan lembut lenganku. Aku tidak berani membalas tatapan matanya.

“Bilang dong…” suara Tante Mira  semakin lembut. Wajahnya semakin dekat, aku jadi semakin tidak berani mengangkat wajah.

Sampai tiba-tiba kulihat tangannya merayap… meraba selangkanganku!Aku terkejut, bercampur malu karena ketahuan saat itu aku sudah “ngaceng”. Aku tidak tahu bagaimana ekspresi Tante Mira  waktu itu, karena aku tetap belum berani melihat wajahnya, tetapi yang jelas dia malah memijit-mijit tonjolan batang kemaluanku yang tentu saja jadi semakin keras.

“Tante… aku…” Aku semakin tidak enak hati, sementara nafsuku semakin tinggi.

“Vaaan, kamu udah gede sekarang….,” bisik Tante Mira.

“Udah 17 tahun, udah dewasa…”

“Maksud Tante, aku boleh….”

“Kamu boleh apapun yang kamu mau, Sayang!”Berkata begitu, Tante Mira  menerkam mulutku dengan bibirnya.

Aku sejenak terkejut dengan serbuan ganas mulut Tante Mira  yang kian binal melumat-lumat mulutku, mendesak-desaknya ke dalam dengan buas. Sementara jemari kedua tangannya menggerayangi seluruh bagian kulit tubuhku, terutama pada bagian punggung, dada, dan selangkanganku. Tidak karuan lagi, aku jadi terangsang. Kini aku berani membalas ciuman buas Tante Mira . Nampaknya Tante Mira  tidak mau mengalah, dia bahkan tambah liar lagi. Kini mulut Tante Mira  merayap turun ke bawah, menyusuri leher dan dadaku. Kemeja seragamku entah kapan dibukanya, tahu-tahu sudah teronggok di lantai.

Beberapa cupangan yang meMira galkan warna merah menghiasi leher dan dadaku. Lalu dengan liar Tante Mira  membawaku turun ke karpet, dibukanya celana panjang abu-abuku, demikian pula celana dalamku dilucutinya dengan gerakan tergesa-gesa. Aku menjadi telanjang bulat.

“Oohhh…. Ivaaan…., Tante nggak nyangka, punyamu bagus juga….” seru bergairah Tante Mira  sambil memasukkan batang kejantananku ke dalam mulutnya, dan mulailah dia mengulum-ngulum, sesekali dibarengi dengan menyedot-nyedot. Sementara tangan kanannya mengocok-ngocok batang kejantananku, sedang jemari tangan kirinya meremas- remas buah kemaluanku. Aku hanya mengerang-erang merasakan sensasi yang nikmat tiada taranya.Pada satu kesempatan, aku berhasil mencopot daster Tante Mira , sehingga dia tinggal mengenakan celana dalam saja. Aku sangat terkejut saat melihat ukuran buah dadanya. Luar biasa besarnya. Bulat, montok, masih sangat kencang walaupun dia sudah beranak satu. Nafsuku jadi semakin tidak terkendali.

Tanpa malu-malu, aku merintih-rintih sembari mengatakan bahwa aku merasa enak luar biasa. Sampai akhirnya kulihat Tante Mira  menurunkan celana dalamnya sendiri. Dia bugil di hadapanku! Aku sempat berpikir waras, kami tidak boleh melakukan semua ini! Tapi waktu itu Tante Mira  sudah menduduki kedua pahaku yang mengangkang. Kemaluannya yang berbulu rimbun tepat menempel di batang kemaluanku. Aku terlentang pasrah.

“A..a..aku… tttakut, Tante…,” kataku ketika kurasakan Tante Mira  mulai menyusup-nyusupkan batang penisku ke dalam lubang vaginanya yang basah.

Tante Mira  tidak peduli, kurasakan ujung batang penisku sudah masuk. Tapi bagaimanapun Tante Mira  mengalami kesulitan karena aku masih setengah hati.Tante Mira  menciumi mukaku. Bibirku dilumatnya kembali, lalu lidahnya menjulur-julur menjilat-jilat. Sementara itu, tangan kanannya terus berusaha menjejal-jejalkan batang penisku ke dalam lubang surgawi miliknya.

“Ivan, please..,” desahnya di telingaku.

“Kamu udah gede, kamu udah boleh, Van…”Entah bagaimana, nafsuku kembali berkobar.

Batang kemaluanku yang tadinya mulai agak kendor karena aku ketakutan, kini kembali menegang keras. Tante Mira  kegirangan, mukaku diciuminya dengan gemas. Pinggulnya bergerak-gerak sementara tangan kirinya terus menuntun batang kemaluanku memasuki vaginanya. Uhhh, nikmat luar biasa. Aku menggigit bibir. Sleeeppp… terasa batang kemaluanku melesak semakin dalam. Inci demi inci, sampai akhirnya masuk semua. Tante Mira  merintih pelan menyebut namaku,

“Ivvvaaaannnn…..”Tanteku yang manis itu mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya.

Maju, mundur, kiri, kanan, berputar-putar. Nikmatnya sungguh tidak terkatakan. Batang penisku serasa disedot dan dipelintir-pelintir. Aku belum pMirah merasakan surga dunia senikmat itu, maka aku tidak tahan. Baru beberapa goyangan, tanpa dapat kucegah sedetikpun, aku “muncrat”. Air maniku menyembur- nyembur entar berapa kali, menyirami vagina Tante Mira  yang kurasakan berkedut-kedut. Itulah untuk pertama kalinya aku mencapai orgasme yang sesungguhnya, setelah sekian lama aku hanya dapat merasakannya dengan “onani” di kamar mandi.Aku tidak tahu bagaimana perasaan Tante Mira  waktu itu. Aku juga belum mengerti bahwa waktu itu dia sangat kecewa karena birahinya tidak mencapai puncak. Yang jelas, kami sama-sama terdiam untuk beberapa saat. Perasaanku tidak karuan. Menyesal, takut, malu, campur aduk jadi satu.Tiba-tiba Tante Mira  menangis sesenggukan. Aku jadi semakin tidak enak hati. Dengan sok gentle, aku memeluk tubuhnya yang telanjang dari belakang. Aku meminta maaf dan berusaha membujuk. Tapi kata Tante Mira, dia justru malu telah menjerumuskan aku.

“Tapi aku nggak nyesel kok, Tante…,” kataku.

Tante Mira  memalingkan mukanya menatapku.

“Betul?” tanyanya.

Aku mengangguk. Entah kenapa, tahu-tahu “anu”ku berdiri lagi. Kulihat muka Tante Mira  memerah, dia pasti dapat merasakan karena batang penisku yang menegang itu menempel rapat pada pantatnya. Dia lalu membalikkan tubuhnya dan kami berpelukan. Entah siapa yang memulai, kami lalu berciuman bibir. Nafsuku berkobar-kobar lagi.Tante Mira  mengajakku masuk ke kamar. Dengan tubuh bugil, kami berangkulan menuju kamar Tante Mira di belakang. Tiba di sana, Tante Mira  rebah duluan di atas ranjang. Aku menyusul. Dua- tiga kali Tante Mira  masih bertanya lagi, apakah betul aku tidak menyesal dan tidak menganggapnya sebagai perempuan murahan. Lalu kami berciuman bibir, lama dan penuh nafsu.

Kurasakan batang kemaluanku sudah luar biasa keras, aku siap untuk meniduri tanteku sekali lagi. Tapi kata Tante Mira , kali ini aku harus sabar. Aku harus bisa membuat Tante Mira  mencapai puncak kenikmatan seperti yang tadi kualami. Maka, dia mengajariku segala macam teknik merangsang birahi perempuan.Dimulai dari berciuman. Dia mengajariku cara-cara memainkan mulut dan lidah. Setelah kuikuti, ternyata memang lebih enak. Lalu dia menyuruhku menciumi lehernya. Aku berhasil membuat sebuah cupangan, tapi Tante Mira  lekas-lekas mengingatkan bahwa cupangan di leher akan mudah ketahuan orang. Maka, dia minta aku mencupang toketnya.

Tanpa diminta pun, aku akan dengan senang hati melakukan itu. Toketnya itu luar biasa bagus. Putih, besar, bulat, kencang dan padat. Aku mencium dan meremas-remas seperti tanpa rasa puas. Dan aku jadi tambah bMirafsu karena perbuatanku itu membuat Tante Mira  menggelepar-gelepar keenakan. Dia bahkan jadi seperti tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Mulutnya mulai mengeluarkan kata-kata jorok, di tengah-tengah desahan dan rintihannya.Aku sebenarnya sudah sangat tidak sabar, ingin segera memasukkan senjataku lagi ke dalam lubang surgawi Tante Mira . Tapi Tante Mira belum memberi isyarat untuk itu. Dia malah memintaku mencumbui selangkangannya dulu.

“Sini, Sayang…, ciumin ini Tante …,” pintanya sambil berbaring telentang dan membuka kedua belah pahanya lebar-lebar.Tanpa membuang waktu lagi, aku terus menyerudukkan mulutku pada celah vagina Tante Mira  yang merekah minta diterkam. Benar-benat lezat. Vagina Tante Mira  mulai kulumat-lumat tanpa karuan lagi, sedangkan lidahku menjilat-jilat deras seluruh bagian liang vaginanya yang telah dibanjiri lendir. gairahhsex.com  Berulangkali kugelitik kelentitnya dengan ujung lidah sambil kukenyot dalam-dalam. Rambut kemaluan Tante Mira  lebat dan rindang. Cupangan merah pun kucap pada seluruh bagian daging vagina Tante Mira  yang menggairahkan ini. Tante Mira  hanya menggerinjal-gerinjal kegelian dan sangat senang sekali nampaknya. Kulirik tadi, Tante Mira  terus-menerus melakukan remasan pada buah dadanya sendiri sambil sesekali memelintir puting- putingnya.

Berulang kali mulutnya mendesah-desah dan menjerit kecil saat mulutku menciumi mulut vaginanya dan menarik-narik daging kelentitnya.

“Ooohhhhh, Ivvvaaannn…, enak banget, Sayaaang… Teruuss…., teruuuuussssss….. Please…, yaaaahhhhhh

“Beberapa menit kemudian, aku merayap lembut menuju perut Tante Mira , dan terus merapat di seluruh bagian buah dadanya. Dengan ganas aku menyedot-nyedot puting payudaranya yang kini mengeras dan membengkak. Kembali kubuat beberapa cupangan di buah dadanya. Berulang kali jemariku memilin-milin gemas puting-puting susu Tante Mira  secara bergantian, kiri dan kanan. Aku kini benar-benar tidak tahan lagi untuk menyetubuhi Tanteku. Tanpa menunggu komando dari Tante Mira , aku membimbing masuk batang kemaluanku pada liang vaginanya.Tapi Tante Mira  masih sempat mengubah posisi. Seperti yang pertama, kembali dia berada di atas.

Ternyata itu memang disengaja oleh Tante Mira  karena posisi begitu lebih menguntungkan aku. Aku jadi lebih tahan, sebaliknya Tante Mira  akan cepat mencapai orgasme.Benar saja. Tante Mira  langsung menggenjot cepat karena rupanya dia sudah sangat keenakan dan hampir mencapai puncak. Aku menelentang saja sembari meremas-remas toket montoknya yang bergelantungan terkontal-kantil. Sesekali aku mengangkat pantat mengikuti komando Tante Mira . Tidak begitu lama, Tante Mira  mengajakku segera membalik posisi.

“Ooouhkk.. yeaaah… ayoo.. ayooo… genjot Vaaannn..!” teriak Tante Mira  saat merasakan batang kejantananku mulai menikam-nikam liar vaginanya. Dalam posisi di atas, gerakanku lebih leluasa. Aku semakin meMira katkan irama keluar masuk batang kemaluanku. Tante Mira  hanya berpegangan pada kedua tanganku yang terus meremas-remas sepasang buah dadanya. Kedua kakinya mengangkang lebar, pinggulnya terangkat-angkat seirama dengan hunjaman batang kemaluanku.

“Blesep… sleeep… blesep..!” suara senggama yang sangat indah mengiringi dengan alunan lembut. Tante Mira  mendesah, mengerang, dan merintih-rintih.

“Aaaarghh…, enak sekali, Ivaaannnn….., Tante suka kontol kamuhhh… Terus, Sayaaang…, teruuuussssss….., ssssshhhhhh….., aaaaarrggghhhhh….”Aku semakin bersemangat, kusodok-sodokkan batang penisku semakin kuat dan cepat.

Itulah nikmat bersetubuh yang pertama kali kurasakan. Aku masih belum bisa bertahan lama saking enaknya. Hanya beberapa menit, puncak klimaks itu kucapai dengan sangat sempurna,

“Creeet… crooot… creeet..!”Pada saat hampir bersamaan, tubuh Tante Mira  mengejang, pinggulnya terangkat tinggi-tinggi.

“Oooorrrrgghh.. sssssshhhhh… aaarrrgghhhh..,” seru Tante Mira  menggelepar-gelepar ketika menggapai puncak kenikmatannya.

“Tanteeehhh.…….”

“Oooohhhh, Ivaann…. Teken terus, Vaan, Tante masih enak…, teken terus, yaahhh…”

“Ivan kayak mimpi, Tante….,” bisikku polos.

“Hm-mm, Tante juga, mimpi di surga… Peluk Tante, Sayang…”

Selanjutnya, dengan batang kemaluan yang masih tetap menancap erat pada vagina Tante Mira, aku jatuh tertidur. Tante Mira juga. Kami baru terbangun ketika si Mbok pulang dari pasar.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Cerita Sex - Blogger Templates - Powered by Berita Unik - Designed by Johanes Djogan -